PARAMESWARA- Selain wisata alam, wisata wahana, wisata permainan, dan wisata sejarah. Kota Bandung juga memiliki segudang wisata edukasi, salah satunya Observatorium Bosccha.
Lokasinya berada di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Observatorium Bosccha dibangun oleh Nederlandsch Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau yang lebih dikenal Perhimpunana Astronomi Hindia Belanda.
Pembangunan Observatorium Bosccha menggunakan dana dari seorang tuan tanah, pemilik perkebunan teh Malabar, yaitu Karel Albert Rudolf Bossha (K.A.R). Pembangunan Observatorium Bosccha memakan berlangsung 5 tahun, tahun 1923 hingga 1928.
Bangunan Observatorium Bosccha juga sempat mengalami renovasi secara besar-besaran, setelah perang dunia ke 2 usai. Renovasi ini dilakukan untuk mengembalikan bangunan seperti semula usai mengalami kerusakan akibat perang dunia ke 2.
Sedangkan pada tahun 17 Oktober 1955, NISV sebagai pengelola Observatorium Bosccha menyerahkan Observatorium ini kepada pemerintah Republik Indonesia. Dan setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosccha akhirnya menjadi bagian dari ITB.
Sejak saat itulah Observatorium Bosccha lantas difungsikan sebagai Lembaga Penelitian dan Pendidikan Formal Astronomi di Indonesia.
Selain menjadi tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia Observatorium Bosccha juga menyimpan berbagai teleskop terbesar dan tertua yang ada di Indonesia.
Kini Observatorium Bosccha sudah berusia 92 tahun, dan sudah memiliki 12 teleskop. Salah satu diantaranya adalah Teleskop Refraktor Ganda Zess yang berusia sama seperti Observatorium Bosccha.
Teleskop ini adalah satu-satunya teleskop yang ada digedung kubah Observatorium Bosccha, yang kini menjadi Lendmark di Bandung Utara.
Hingga saat ini teleskop ini masih berfungsi dengan baik, berkat perawatan yang dilakukan secara konsisten. Teleskop ini juga mampu mengamati bintang yang jauh lebih lemah, kurang lebih 100 ribu kali lebih lemah dari bitang yang dapat dilihat oleh mata telanjang. (Parameswara)